Selasa, 01 November 2011

SPESIAL: Segudang Asa Anak Indonesia Di Milan


Sebanyak 18 pesepakbola Indonesia All-Star Team hasil seleksi Milan Junior Camp (MJC) berangkat ke Milan, Italia, pada hari ini untuk mengikuti Intesa Sanpaolo Cup.

Pada turnamen yang dimulai 5 November 2011 ini, tim Indonesia datang dengan status sebagai juara bertahan. Tahun ini target yang sama diusung bersama harapan terpilihnya anak Indonesia untuk masuk dalam Milan Academy.

Apa harapan para pemain dan persiapan seperti apa yang sudah dilakukan para pesepakbola muda ini? Berikut wawancara singkat GOAL.com Indonesia dengan beberapa pemain sebelum keberangkatan ke Milan.

Adnan Faturrahman, peserta dari Makassar adalah yang paling unik dari semua peserta. Pesepakbola kelahiran 3 Nopember 1997 ini rela telanjang dada saat tidur dan memilih posisi di bawah AC. Itu dilakukannya selamatraining camp (TC) tim di Ragunan.

"Biar saya terbiasa dengan cuaca dingin. Kalau di Makassar kan panas sekali. Jadi saya tidak mau di Milan nanti latihan saya jadi terganggu karena saya tidak bisa beradaptasi dengan cuaca dingin, takut badan saya terkejut," ujar Adnan.

Gelandang yang pernah masuk memperkuat timnas U-14 Yamaha Indonesia ini sangat mempersiapkan diri dengan baik. Dia tak ingin kesiapan tim yang dinilainya sudah bagus, malah terganggu dengan persoalan nonteknis.

"Kalau untuk tim, kita akan berusaha maksimal di sana [Milan]. Untuk diri sendiri saya harus bisa percaya diri. Karena masuk ke tim ini juga sebuah perjuangan, saya senang sekali bisa ikut di tim," timpalnya.

Hijrah ke Milan, bagi Adnan adalah sebuah anugerah. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki ke luar negeri. Dia punya misi penting yakni menunjukkan kepada keluarganya bahwa pilihannya ini yang terbaik untuk hidupnya. Adnan sempat bercerita betapa sejak kecil dia sudah menyukai si kulit bundar, walau pada saat itu dia harus menerima omelan sang ibu yang gerah karena perabotan di rumahnya berantakan karena aksi Adnan.

"Saya sangat suka bola kaki. Rumah saya di Makassar kan rumah panggung, saya suka main di bawah kolongnya. Selain itu saya juga suka main di dalam rumah, meja adalah gawang buat saya dan saya saat itu masih menggunakan bola kasti. Jadinya asal main di rumah, meja rusak dan berantakan. Ibu sering marah karena mejanya rusak, jadi saya disuruh perbaiki baru bisa main bola lagi," ujarnya sambil tertawa.

Namun, kecintaannya terhadap si kulit bundar terus membumbung tinggi. Latihan kemudian berlanjut dari kolong dan meja ke lapangan samping rumah. Bapaknya yang hanya supir truk gas elpiji kemudian tak bisa menahan anaknya lagi.

"Dari situ, kemudian orang tua saya melihat kegigihan saya dan akhirnya memasukkan saya ke SSB waktu kelas lima SD. Saat itu SSB dekat rumah tidak ada, saya terpaksa harus naik angkot selama satu jam menuju lokasi dalam empat kali seminggu. Saya senang bisa latihan di SSB," kenangnya.

Sulung dari tiga bersaudara ini kemudian berhasil masuk Diklat Makassar dan kemudian diplot masuk Ragunan.

"Setelah itu, baru orang tua saya terus mendukung. Saya ingin berhasil dan membanggakan kedua orang tua," pungkasnya.

Selanjutnya ada Sofyar Satrio Utomo, wakil dari Surabaya. Pesepakbola kelahiran 13 Juli 1999 ini disebut kawan-kawannya sebagai yang terimut.

"Jangan tanya tinggi badan ya?" ujar warga Gayungsari Barat No.2 ini.

Rio-begitu dia akrab disapa-mengaku sempat tak percaya diri dan tak menyangka masuk dalam All-Star Team.

"Aku enggak nyangka bisa lolos, malah aku kiranya aku enggak bisa masuk tim ini. Soalnya aku kecil sendiri," ungkapnya.

Pelajar kelas 1 SMP Negeri 3 Surabaya ini juga sempat harus bergelut untuk meyakinkan kedua orang tuanya agar bisa diperbolehkan bermain sepakbola. Rio sejak kecil diharapkan bisa mengikuti langkah ayahnya seorang pengusaha. Tapi dia tak hilang akal.

"Aku bilang sama orang tua, kalau jadi pemain sepakbola kan bisa dapat uang, nah uangnya itu bisa buat usaha. Jadi bisa jadi pemain bola dan pengusaha," ujarnya antusias.

Fans Persebaya dan Persib ini kemudian bisa mematahkan keraguan orang tuanya setelah dia terus berlatih serius.

"Aku enggak pernah ikut SSB, hanya ada pelatih khusus saja. Ya setelah lolos ke Jakarta dan dibawa ke Milan, orang tuaku mendukung aku jadi pesepakbola," ungkapnya.

Untuk berterimakasih kepada orang tuanya, Rio ingin tampil terbaik di Milan.

"Semoga Indonesia bisa juara lagi dan kami bermain yang terbaik di sana," tukas penggemar Bambang Pamungkas ini.

Ketiga ada Sabeg Fahmi Fachrezy sebagai salah satu wakil dari Bali. Siswa Kelas 1 SMA Al Badri Sumber Jeruk ini, sudah yakin sejak seleksi bakal terpilih masuk All-Star Team.

Dia sudah menggeluti bola sejak masih kecil. Dan dia pernah menjadi topskor dan pemain terbaik saat memperkuat SD-nya di event Olimpiade SD di Surabaya.

Buah hati H Mahfud dan Hj Luluk tumbuh sebagai pemain bola dengan dukungan besar kedua orang tuanya. Dia mengaku ayahnya mantan pemain Persebaya.

"Saya sangat berharap bisa terpilih ke Akademi Milan dan bisa tinggal di sana sekaligus membawa kedua orang tua saya ke sana (Milan)," ungkap striker kelahiran 24 Januari 1996.

Selanjutnya ada Dhanu Syahputra, wakil Malang. Lahir 13 November 1998, sangat bangga menjadi bagian tim ini.

Pengalaman uniknya yang bakal dijalaninya ke Milan adalah perjalanan kali pertama ke luar negeri. Siswa kelas 2 SMP 8 Jember ini berharap bisa tampil terbaik dan memberikan sumbangsih untuk tim Indonesia.

Warga Jalan Jalan W. Mongonsidi 20 A ini masih menyimpan perasaan bangga bisa masuk ti tim ini.

"Pertama harus memenangkan pertandingan di sana [Milan], kedua merebut gelar juara seperti tim yang sebelumnya," ungkap buah hati pasangan Trie Utomo dan Tuti Haryani ini.

Kemudian Gavin Kwan Adsit. Namanya sudah lumayan akrab didengar. Dia adalah pemain yang sempat menyumbangkan gol di U-16 Piala Asia 2011, di Stadion Yamaha, Thailand, saat Indonesia melawan Myanmar.

Gavin juga sejatinya bisa ikut ke Milan tahun lalu. Namun setelah dinyatakan lolos, Gavin menolak ke Milan karena di waktu yang sama dia sedang mengikuti Manchester United Academy. Gavin berhasil masuk ke tim Indonesia ke Inggris dan menjalani training dan uji coba di Inggris selama satu bulan penuh. Ketika peluang tahun ini kembali datang, Gavin ikut seleksi lagi.

"Saya yakin kembali lolos awalnya, tapi begitu seleksi saya agak ragu juga, sebab banyak yang bagus-bagus. Tapi saya senang bisa masuk tim ini dan senang sekali begitu diumumkan lolos," ungkapnya.

Pemain kelahiran 24 Januari 1996 ini memang terlahir dari keluarga hobi sepakbola. Kedua kakeknya adalah maniak bola. Sedangkan ayahnya pemain bola. Namun ayahnya yang merupakan warga Amerika tidak bisa mewujudkan impian jadi pesepakbola, lantaran di negeri Paman Sam itu sepakbola menjadi olahraga minor.

"Saat itu di high school [SMA] bapak saya tidak ada sepakbola, yang ada basket, jadinya ya terpaksa main basket, padahal waktu itu bapak saya suka main bola," kata Gavin.

Nah, begitu Gavin menunjukkan hobinya ke bola, keluarganya semua mendukung.

"Saya suka bola tapi saya tidak ignore [mengabaikan] pelajaran. Saya suka menggambar rumah dan bercita-cita juga jadi arsitek. Kalaupun saya jadi pesepakbola sayaenggak akan lupakan belajar," ungkap Gavin.

Di Milan nanti, Gavin dan beberapa anak yang usianya sudah 15 tahun memang tak akan bertanding di Intesa Sanpaolo Cup. Namun mereka akan bersaing untuk mendapatkan posisi di Milan Academy.

"Di grup saya ada beberapa orang seperti saya, Maulid tidak ikut bertanding karena usia. Kami akan dimainkan di friendly games melawan Milan Academy, dan kami dinilai juga untuk melihat apakah berpeluang sekolah sepakbola di Milan Academy," tutur Gavin.

Lalu ada Okka Dwi Syahputra, satu-satunya wakil dari Medan. Warga Jalan Klambir V Gang Sahabat Baru No 41 ini mengungkapkan akan bertanding dengan serius.

Jebolan SSB Sinar Sakti Medan ini berharap bisa membayar kepercayaan masuk All-Star Team.

"Perasaan saya senang bisa lolos ke Italia. Dan akan memberikan yang terbaik untuk tim Indonesia," ujar pesepakbola kelahiran 2 Oktober 1997.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar