Rabu, 16 November 2011

Rijsbergen : Kalau Anda Kasih Duit, Saya Mundur

Tim sepak bola nasional senior Indonesia semakin terbenam di dasar klasemen Grup E babak ketiga Pra-Piala Dunia 2014 Zona Asia setelah kalah 1-4 oleh pemimpin klasemen Iran di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa, 15 November 2011.

Ambisi Indonesia untuk bisa meraih satu kemenangan melalui laga terakhir di kandang tidak terwujud. Adapun bagi Iran, kemenangan ini membuat mereka berada di puncak klasemen sementara dengan 11 poin.

Meski tim asuhannya tersingkir, bahkan terpuruk karena selalu kalah, pelatih tim nasional asal Belanda, Wim Rijsbergen, tidak ingin mundur. Dia menegaskan hanya akan mundur jika pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia memutuskannya.

"Kalau kamu (wartawan) mau memberi saya uang, saya akan mundur. Saya tidak menginginkan seperti itu. Saya ingin menanamkan sesuatu pada sepak bola Indonesia," kata Rijsbergen, yang juga bintang Belanda di final Piala Dunia 1974 dan 1978, kemarin ketika ditanya wartawan soal kelanjutannya di tim nasional.

Rijsbergen membela diri dengan mengatakan ada banyak hal yang menyebabkan tim nasional terpuruk. Menurut dia, tim yang menjadi lawan pada kompetisi ini bukan tim sembarangan. Apalagi kondisi pemain sudah lima bulan tidak mengikuti kompetisi. "Bagaimana saya mau memilih dan mencari pemain karena sudah lima bulan liga tidak berjalan," ujarnya.

Kapten tim nasional Indonesia, Bambang Pamungkas, juga membela mantan bek Feyenoord itu. Menurut Bambang yang mencetak satu-satunya gol balasan kemarin, mundurnya Rijsbergen bukan penyelesaian masalah. "Saya menolak setiap pihak menyalahkan pelatih. Ini adalah kesalahan kami semua pemain, juga Pak Djohar Arifin bersama PSSI," kata kapten timnas itu.

Sedangkan penanggung jawab tim nasional PSSI Bernhard Limbong mengatakan, setelah kekalahan ini, PSSI berencana memanggil Rijsbergen untuk meminta keterangannya. "Kami akan evaluasi, tapi setelah SEA Games," katanya.

Menurut Limbong, keterpurukan tim nasional bukan kesalahan Rijsbergen. "Pelatih, seperti apa pun, kalau pemainnya tetap tidak bisa, ya akan sama saja," katanya.

Tim nasional mengalami kekalahan kelima pada kompetisi ini. Dalam pertemuan pertama kedua tim di Iran, skuad Garuda mengalami kekalahan dengan skor 0-3 oleh tuan rumah. 

Pertandingan kemarin malam berjalan jauh dari memuaskan karena kesalahan yang banyak dilakukan pemain-pemain Garuda.

Kekalahan mulai tampak saat pertandingan memasuki menit ke-7 ketika pemain belakang Mahyadi Panggabean melakukan kesalahan saat menghalau bola. Kondisi ini langsung dimanfaatkan penyerang Milad Midavoodi yang berhasil mencetak gol lewat tendangan mendatar ke sisi kanan gawang Hendro Kartiko.

Pada menit ke-19, penyerang Iran lainnya, Ghazali Najafabadi, lolos dari jebakan offside dan berhasil memberi umpan ke tengah kotak penalti. Hendro, yang mencoba mencegat umpan ini, gagal menghalau bola yang diterima Mojtaba Jabari. Dengan mudah, Jabari melesakkan bola ke gawang yang tidak terkawal.

Kesalahan kembali terulang saat Hendro gagal mengamankan bola di kotak penalti. Pada menit ke-24, Gholam Reza Rezaei kembali menggetarkan jala gawang skuad Garuda. Skor ini diperkecil oleh gol yang dibuat Bambang Pamungkas menjelang turun minum babak pertama. Tandukan Bambang, yang menerima umpan Syamsul Arief, berhasil membuat skor menjadi 1-3 pada menit ke-43.

Upaya Rijsbergen memasukkan dua pemain baru pada babak kedua tidak berarti banyak. Permainan tim memang menjadi lebih bertenaga dengan masuknya Firman Utina dan Benny Wahyudi yang menggantikan Fandy Mochtar dan Mahyadi Panggabean.

Beberapa peluang diciptakan pemain Indonesia. Namun, Javad Nekounam malah berhasil menambah keunggulan menjadi 4-1 untuk Iran. Dengan hasil ini, skuad Garuda hanya memetik nilai nol dari lima laga yang dijalani dengan menyisakan satu laga tandang melawan Bahrain, yang tidak lagi menentukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar