Minggu, 13 November 2011

Permasalahan Bukan Pada Naturalisasi, Tapi Pembinaan Pemain

Ketika masyarakat mulai suka sepakbola. Publik massal membanjiri stadion sepakbola, baik yang faham bola maupun gadis dan anak-anak yang suka karena pemainnya. Ini pertanda baik bagi awal kebangkitan sepakbola Nusantara. Jangan memasalahkan Naturalisasi.

Naturalisasi Berguna 
Minat massal dari media, artis dan masyarakat bola maupun non-bola ini antara lain berkat munculnya pemain dari luar baik yang naturalisasi maupun yang sudah lama WNI, Irfan dan El Loco.


Kalangan sepakbola pasti menyadari perkembangan positif ini, karena dukungan massal adalah kunci sukses team, tidak terkecuali sepakbola atau organisasi sekolah. Naturalisasi memunculkan wajah-wajah baru orang yang punya niatan untuk tampil baik di ajang internasional atas nama Merah Putih.

Saingan Fair

Para pemain naturalisasi seperti Christian Gonzales, Ruben Wuarbanaran, Kim Kurniawan, Diego Michiels, Greg Nwokolo, John van Beukering, Tonny Cussel, dan Viqtor Iqbonefo tidak serta merta dipasang di timnas. Dia harus menunjukkan kwalitas di atas rata-rata. Bagi mereka berlaku persaingan fair. Pelatih bukan orang bodoh, yang silau segala yang berbau Eropa.


Naturalisasi Masalah
Tapi sangat mengherankan ketika belakangan ini beberapa tokoh sepakbola yang justru menyuarakan anti Naturalisasi ini. Bernhad Limbong selaku Penanggungjawab Timnas menyatakan menentang naturalisasi. Dengan alasan bisa merusak pertumbuhan bakat lokal dan harga diri bangsa.

Argumen yang keliru. Pemain naturalisasi dibutuhkan bukan untuk membunuh bakat lokal. Tetapi faktanya justru sebaliknya. Karena pembinaan selama ini yang tidak menciptakan pemain berkwalitas, maka dibukalah peluang pemain keturunan untuk memperkuat timnas. Bukan anak-anak didikan luar yang maksa, tapi dari Indonesianya sendiri yang 'minta-minta.'


Jangka Panjang

Tentu saja untuk jangka panjang sebaiknya tidak ada lagi naturalisasi. Sementara fakta di lapangan prestasi pemain lokal kita masih miskin, kwalitas taktis juga kurang. Mereka belum mampu berprestasi tingkat ASEAN, karena tidak biasa bermain lawan dan dengan pemain multi nasional.

Membunuh Sepakbola

Sebenarnya yang membunuh sepakbola adalah kalau menolak Naturalisasi. Sekarang geliatnya sudah baik sejak AFF 2010, semangat pendukung sudah marak dengan naturalisasi Irfan dan El Loco.


Kalau menunggu bakat lokal muncul, bisa 15 atau 20 tahun lagi. Waktu yang lama itu mau diisi apa? Sepakbola bisa mati, stadion kosong pertandingan bola jadi momok masyarakat lagi. Lantaran orang takut tawuran, anak-anak trauma nonton silat di lapangan, kwalitas pertandingan miskin.

Oportunis
Bernhad Limbong berteriak lantang melarang naturalisasi, boleh-boleh aja. Anti-naturalisasi sama dengan bersuara beda, tapi apakah bijaksana ketika banyak orang merindukan prestasi??

Akan lebih bijaksana kalau Bernhad Limbong dan PSSI mencari penyebab mengapa program pemupukan bakat selama 10 tahun ini tidak berjalan. Bukankah sudah banyak wadah dan sudah cukup dana APBD dihabiskan. Kemana hasilnya? Coba itu dicari penyebabnya dan suarakan solusi! Jangan mencari masalah baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar