Minggu, 13 November 2011

Alfin Tuasalamony, Pemain Indonesia Pertama Yang Mendapatkan Kartu Merah di Belgia












Menarik mengamati perkembangan tiga pemain Indonesia yang ditempatkan di SC Visé, klub devisi dua Belgia, milik keluarga kaya Bakrie.

Sejak Juni 2011 Yandi Munawar (25 Mei 1992), Yericho Christiantoko (14 Januari 1992) dan Alfin Tuasalamony (13 November 1992) dipindahkan dari pelatihan SAD di Uruguay ke Belgia.

Kompetisi 
Sejak kompetisi 2011/12 dimulai, 24 Agustus itu Munawar pemain depan (kebagian 57 menit) dan Tuasalamony bahkan satu pertandingan penuh tanpa diganti ketika main kandang lawan Sint Niklaas. Visé memetik kemenangan tipis 2-1. Yericho belum kebagian menit karena bek kiri ini masih cedera. 

Tampaknya Visé lebih membutuhkan kontribusi pemain belakang kelahiran Maluku, Tuasalamony, ketimbang Munawar. Buktinya pada pertandingan Piala Belgia Cup, lawan Oostende hanya Alfin yang dipasang satu pertandingan penuh.

Kartu Merah
Perannya juga sangat krusial, karena pada pertandingan hidup mati pada 28 Agustus itu Tuasalamony dikeluarkan di menit ke 102, karena mengantongi dua kartu kuning. Karena bermain dengan 10 orang, Visé yang di kandang sendiri masih bertahan 0-0. Akhirnya dalam 10 menit, tidak bisa meredam dua kali gedoran Sam de Mutter di menit 110 dan 118, terhadap gawang klub milik famili Bakrie itu. 

Mencolok menyaksikan data fisik para pemain Indonesia ini. Usianya 19 tahun dan tinggi badannya hanya sekitar 170 cm saja. Yericho 167 cm, Alfin 171 cm dan Yandi juga kurang lebih sama.

Sedangkan lawan-lawan mereka tingginya sekitar 180 cm. Ini jelas perbedaan besar, dan tidak heran kalau untuk menahan gempuran pemain tinggi besar, pemain Indonesia ini akan kewalahan dan banyak menggunakan tangan untuk menghentikan laju lawan.

Ketinggian
Dikhawatrikan mereka ini tidak akan mampu bersaing di liga Eropa yang sangat ketat. Sekalipun di level dua Belgia, masih terlalu berat. Semoga saja pelatih bisa obyektif dalam menilai ketiganya dan tidak dipengaruhi tekanan dari bos Bakrie yang orang Indonesia. Tidak ada manfaatnya kalau terus dipaksakan! Kasihan pelatih, penonton dan si pemain sendiri yang kedodoran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar