Jumat, 04 November 2011

Hati bening Riedl

Bentangan spanduk "Selamat datang kembali Riedl" menghiasi laga Tim Merah Putih melawan timnas Laos dalam ajang SEA Games XXVI. Dan perang tanding berlangsung, ujung-ujungnya timnas Indonesia mengakui keunggulan Laos. Publik sontak bersorak, "Riedl Oke. Gusur pengurus PSSI!"

Ah, ini sekedar rekaan, kalau saja dua tim saling bersua di semifinal, maka bandul sejarah bergoyang. Bambang Pamungkas dan kawan-kawan pernah merasakan sentuhan Midas gaya pelatih asal Austria itu.

Riedl kini melabuhkan hati di kubu Laos sebagai Direktur Teknik. Dia pergi dari Indonesia dengan hati terkoyak dengan keputusan pemutusan kontrak sepihak kubu PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin.

Buntut kekalahan Indonesia - kalau memang terjadi - media massa ramai-ramai menurunkan kepala berita "Hati Bening Riedl". Sehari atau dua hari sebelum laga digelar, berita lempang dan ulasan dari pemerhati bola disesaki oleh judul "Riedl versus Riedl." Tungku konflik pun membara.

Sebaliknya, kemenangan Oktovianus Maniani cs tidak otomatis memadamkan bara kisruh di tubuh PSSI. Dirumus secara negatif, jika gagal diganyang, jika timnas Indonesia sukses, maka publik dibanjiri akrobat puja-puji bernuansa narsistis. Dan Riedl akan mendatangi dan menyalami satu persatu pemain Indonesia seraya berucap lirih, "Saya bahagia bisa kembali ke sini."

Kalimat yang persis sama diucapkan Riedl ketika ia dimintai tanggapan soal peluang tim asuhan pelatih Rahmad Darmawan. Sejak kontraknya diputus oleh PSSI pada Juli 2011, ia dikenang oleh suporter Tanah Air sebagai sosok pelatih yang menyentuh hati.

Riedl mengalahkan amuk diri kemudian menggantinya dengan hati bening. Ia menyambangi Indonesia tidak dengan trauma berkepanjangan tetapi memosisikan diri sebagai kembalinya sosok yang tertindas. Ia menganut pakem rekonsiliasi diri, yakni mengingat tapi tidak melupakan.

Memorinya, kontrak Riedl dengan Timnas dicerai oleh PSSI karena federasi sepak bola nasional itu menganggap Riedl diikat kontrak dengan perorangan, yakni Ketua Badan Tim Nasional sekaligus Wakil Ketua Umum PSSI Nirwan Dermawan Bakrie. Kisruh ini berbuntut panjang hingga FIFA turun tangan untuk memecahkannya.

Bermodal hati bening, nurani jernih, Riedl tidak terusik dengan keping trauma diri. "Saya kenal mayoritas pemain timnas saat ini. Jadi, saya pikir Indonesia punya peluang menjadi juara," ujarnya. Lihat susunan kalimatnya yang menyuntik semangat kepada mantan anak buahnya. Bisa saja ia melontarkan kalimat baku, semisal, "Kedua tim sama-sama berpeluang. Kita lihat saja nanti."

Publik Indonesia menyimpan keping drama seputar Riedl. PSSI di bawah Djohar Arifin Husin memberangus euphoria publik. PSSI kini tiada henti memerankan rumus dunia pencitraan diri, bahwa sergap dan kepunglah publik dengan janji-janji perubahan. Hasil nyatanya urusan nomor dua.

Di jagat bola, urusannya bukan pencitraan diri tapi bukti. Ini kendala nonteknis yang disebut-sebut bakal dihadapi timnas U-23. "Faktor nonteknis macam itu sangat berpengaruh bagi penampilan tim, itu tidak bisa dimungkiri," kata mantan Sekretaris Persebaya Eddy Yuwono Slamet sebagaimana dikutip dari sebuah tabloid olahraga nasional.

Kalau saja Indonesia menghadapi Laos, maka ada bayang-bayang trauma membekas. Boleh jadi Riedl berada di atas angin, sementara kubu PSSI bertengger sebagai pecundang saja.

Di SEA Games 2009, Laos yang saat itu ditangani Riedl memukul Indonesia 2-0. Kekalahan saat PSSI dipimpin Nurdin Halid itu menjadi salah satu titik nadir pencapaian timnas sepak bola. Riedl diboyong PSSI melatih Indonesia. Dia membawa timnas ke final Piala AFF 2010.

Kisahnya mirip-mirip dengan dongeng dari Fabel Aesop berjudul Serigala Berbulu Domba yang mengerucut kepada pelajaran perilaku seputar hati yang bening bahwa kadang-kadang terlalu cerdik bisa tidak menguntungkan.

PSSI hendaknya tidak mengulangi perilaku layaknya domba-domba yang mengira bahwa serigala itu salah satu dari mereka, akibatnya mereka tidak mempedulikannya ketika ia berjalan-jalan di antara mereka. Bahkan gembalanya tidak mengetahui siapa sebenarnya serigala itu.

Kisah serigala kini mencekat PSSI. Hati bening Riedl menawarkan kebaruan nurani dan kejernihan olah batin serentak olah kata. Ketika ditanya seputar memori terindah dan terburuk selama kariernya di Indonesia, Riedl menjawab, "Ada banyak momen indah yang saya rasakan di sini. Momen terburuk? Saat saya ditendang tanpa alasan jelas. Saya dipecat tak masalah, tapi apa alasannya?"

Drama hati bening Riedl bakal menghantui PSSI. Tuan-tuan PSSI... tidakkah Anda ingat bahwa beberapa pemain timnas mengaku kecewa kepada Pelatih Timnas Indonesia Wim Rijsbergen. Wim menyudutkan pemain seusai kekalahan 0-2 dari Bahrain, Selasa (6/9).

Pelatih asal Belanda itu menyebut pemain yang sekarang terpilih masuk ke timnas bukan hasil pilihannya, melainkan pilihan pelatih sebelumnya, yakni Riedl. Pada final Piala AFF 2010, Riedl justru membela pemainnya yang dihujani kritik karena bermain buruk di final leg pertama melawan Malaysia. Saat itu Indonesia kalah 0-3 oleh Negeri Jiran.

Serigala itu memutuskan domba mana yang akan diterkamnya, ketika mendadak pintu kandang terbuka. Sang Petani berdiri di ambang pintu. "Kami perlu daging segar. Salah satu dari kalian domba sudah cukup. Ya, kau yang di sana. Kau kelihatan cukup besar," kata petani.

Petani itu mengangkat kapaknya kemudian mengayunkannya kepada serigala itu, menyangka ia adalah domba. Sekarang, siapa memerankan domba? Siapa melakonkan serigala dan siapa sang Petani itu? Dan Riedl menjawab, saatnya mengandalkan hati bening!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar