Minggu, 06 November 2011

20 Tahun Menanti Indonesia Raya di Sepakbola


SEA Games Manila 1991. Pelatih Tim Nasional Indonesia asal Rusia, punya terget berat yang harus diraih: medali emas harus direbut lagi setelah lolos dari genggaman di SEA Games 1989. Dua tahun sebelumnya (1987) saat SEA Games digelar di kandang, Indonesia berhasil menjadi juara cabang sepakbola untuk kali pertama.

Polosin kala itu berpikir sederhana saja. Kondisi fisik sangat penting untuk
bisa bertarung di jadwal padat khas pertandingan di arena multi event. Menurutnya, pemain bisa mencurahkan segala yang ia punya, sampai habis, jika punya fisik yang prima.

Maka digenjotlah stamina Erril Raymond Hattu dan kawan-kawan. Hasilnya adalah emas. Thailand mereka libas di partai final lewat adu tendangan penalti 4-3.

Momen emas itu sudah lama sekali, 20 tahun lalu. Pada sembilan SEA Games
berikutnya termasuk di Jakarta 1997, Merah Putih gagal berkibar di posisi
tertinggi. Lebih prihatin lagi, dalam rentang 20 tahun itu hanya satu kali Indonesia lolos ke final.

Tak heran di SEA Games 2011 ini, harapan masyarakat Indonesia tergantung tinggi. Hingar-bingar yang kedengaran dari ribut-ribut di federasi sepakbola, PSSI, sudah bosan didengar para pecinta bola di negeri ini. Sekarang, yang ingin didengar publik Indonesia adalah berkumandangnya lagi "Indonesia Raya" di cabang sepakbola.

Pelatih Rahmad Darmawan sadar betul beban yang disandang dirinya serta
pasukannya sangat berat. Gagal lagi akan mengandung risiko berat.  
Makanya persiapan matang dilakukan bahkan sejak awal tahun, saat masih ada pelatih kesayangan banyak orang, Alfred Riedl. Di tiga bulan terakhir,
persiapan kian intensif. Yongki Aribowo dan kawan-kawan menjalani 16 kali
ujicoba--12 kemenangan diraih dan hanya sekali mereka kalah.

Senin, 7 Oktober 2011, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, langkah pertama untuk meraih emas yang sudah 20 tahun lepas akan dimulai. Lawannya tak terlalu berat, Kamboja.

Dalam jumpa pers yang digelar di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Minggu, Rahmad mengaku buta akan kekuatan Kamboja. Namun pria yang akrab disapa RD itu menilai semangat tim ini patut diwaspadai.

"Kalau membandingkan Kamboja dengan tim dari grup lain, mereka mungkin mirip Laos dan Myanmar. Mereka main dengan kompak, disiplin, dan semangat juang yang tinggi. Inilah yang harus diwaspai pemain kita," kata RD.

Soal kondisi pemainnya, Rahmad menilai dalam kondisi yang bagus. Secara fisik, skuad Garuda menurutnya sangat siap menghadapi pertandingan pertama mereka di Grup A.

Siapa yang akan menjadi starter, mantan pelatih Persija Jakarta ini menyatakan sudah mengantongi 11 nama. Ia menegaskan takkan ada lagi eksperimen.

"Saya sudah sering simulasi di laga uji coba dan tidak mungkinlah saya
coba-coba lagi. Di rapat sebelum pertandingan baru kami kasih tahu kepada
pemain. Sudah kami putuskan nama-nama itu. Saya ingin mereka konsentrasi dulu, baru besok diberi tahu."

Untuk partai pertama ini, tak ada pilihan lain kecuali menang. Pasalnya
Grup A yang dihuni Indonesia bisa dibilang angker. Di sana ada Thailand serta juara bertahan Malaysia. Kemenangan atas Kamboja dengan telak akan menjadi modal penting untuk menghadapi pertandingan yang lebih berat.

Soal dukungan tak perlu diragukan. Walau publik baru saja kecewa dengan performa timnas senior di ajang Kualifikasi Piala Dunia, rasanya harapan masyarakat masih tetap tinggi. Tapi, sayangnya, puluhan ribu calon penonton setia, para anggota Jakmania, belum bisa memastikan kedatangan mereka.

Richard Ahmad, Sekretaris Umum Jakmania, mengungkapkan pihaknya sulit mendapatkan tiket.

"Yang kami inginkan adalah bagaimana bisa mendapatkan tiket lewat satu pintu saja. Soalnya kami ini kan jumlahnya ribuan. Terakhir kami nonton timnas itu saat melawan Bahrain (timnas senior) kami berjumlah 20 ribu orang. Dan angka itu akan tetap sama andai kami bisa hadir di Senayan saat Indonesia melawan Kamboja," kata Richard saat dihubungi VIVAnews, Minggu malam.

Richard berusaha mencari jalan keluar. Ia menegaskan bukannya sedang mencari tiket gratisan, melainkan sekadar kemudahan untuk mendapat tiket lebih mudah ketimbang penonton perorangan. "Kami masih akan terus mencoba mencari jalan keluar. Saya harap Sekjen PSSI Tri Goestoro bisa memberikannya."

Panitia sendiri menyediakan 72.500 tiket. Ini jauh lebih banyak ketimbang pertandingan yang tidak melibatkan tuan rumah di mana hanya dua ribu tiket yang dicetak.

Rahmad sendiri masih menyimpan optimismenya. "Untuk juara peluangnya cukup besar," katanya, hakulyakin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar