Selasa, 13 Desember 2011

Virus yang Menggerogoti Sepak Bola Indonesia

Stabilitas sepak bola Indonesia sejak tiga tahun terakhir memang kian memanas, kalau persaingan prestasi yang memanas ini tentu suasana yang baik dalam membangun sepak bola Indonesia yang lebih berkualitas untk bisa masuk ke Piala Dunia, namun justru yang terjadi malah sebaliknya, yang memanas adalah situasi perebutan kekuasaan tertinggi disepak bola Indonesia dimana antar kelompok dan golongan saling adu kuat dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menjadi penguasa didunia sepak bola Indonesia.
Lihat saja kongres pemilihan Ketua Umum PSSI yang dilakukan oleh Komite Normalisasi PSSI yang dibentuk oleh FIFA, berlangsung cukup alot bahkan hingga dilakukan kongres kedua di Solo dengan ancaman jika ini juga gagal maka secara otomatis sepakbola Indonesia akan terkena sanksi dari federasi sepakbola tertinggi dunia FIFA. Lewat tekanan FIFA inilah akhirnya kongres kedua komite normalisasi PSSI dapat berjalan dengan lancar dengan terpilihnya Djohar Arifin Husein sebagai Ketua Umum PSSI yang baru Priode 2011 - 2015. 

Sayangnya perseteruan Sepakbola Indonesia ternyata tidak berhenti sampai disini saja, Djohar Arifin sebagai Ketua Umum PSSI terpilih yang didukung oleh Kelompok Arifin Panigoro dan kawan-kawan banyak membuat perubahan mengejutkan ditubuh PSSI, diantaranya adalah pergantian Pelatih Timnas Alferd Ridl yang terkesan sangat mendadak, hingga melaksanakan kompetisi sepakbola kasta tertinggi ditanah air dengan diikuti oleh 24 klub yang berada dibawah naungan PT. LPIS dan membekukan PT. ISL sebagai penyelenggara kompetisi yang lama.

Kebijakan ini tentunya mendapat pertentangan dari klub-klub terutama dari klub yang diisi dari orang-orang pengurus lama, hingga akhirnya PT. ISL sebagai institusi yang telah memiliki badan hukum penyelenggara kompetisi yang telah dibekukan oleh pengurus PSSI yang baru tetap akan membuat kompetisi sendiri walau tidak mendapat restu dari pengurus PSSI yang baru. Hal ini tentunya memunculkan adanya dua kompetisi level atas yang mungkin hanya terjadi di Indonesia. Terjadinya hal seperti ini tidak terlepas dari kengototan dari masing kelompok yang tetap ingin bisa berkuasa dan exis di PSSI.

Djohar Arifin sebagai sosok yang terpilih menjadi Ketua Umum PSSI yang baru yang didukung oleh kelompok Arifin Panigoro telah melakukan pembersihan ditubuh PSSI dari orang-orang pengurus lama dan juga program-program yang masih berbau kepengurusan Nurdin Halid. Dengan tetap akan digulirkannya ISL yang didukung oleh kelompok Bakrie adalah merupakan bukti kuatnya pertarungan antar tokoh dan kelompok ditubuh PSSI. Jika hal ini dibiarkan terus terjadi maka sepak bola Indonesia tak ada bedanya dengan pertarungan politisi di Gedung DPR.

Aroma Politik kian terasa ketika salah satu kandidat calon Ketua Umum PSSI Adhyaksa Dault yang juga adalah mantan Menpora menyatakan mengundurkan diri ketika mendekati hari H Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI akan dilaksanakan oleh Komite Normalisasi, dengan alasan sudah tidak adalagi suasana Sportifitas menjelang Pemilihan Ketua Umum PSSI tersebut, justru suasana yang ada adalah suasana Politik yang ini menurutnya tidak baik dalam proses pemilihan Ketua Umum PSSI dan untuk pengurus PSSI kedepan.

Hal ini ternyata benar terbukti, kondisi PSSI saat ini sama persis seperti kondisi partai politik yang ada di Indonesia apabila setelah melakukan kongres untuk memilih pengurus baru maka kelompok yang kalah dan tidak diikutkan lagi dalam kepengurusan baru maka merekapun akan membuat Partai Politik baru dengan alasan demi untuk menyalurkan aspirasi mereka. Hal demikian nampaknya juga terjadi pada sepak bola Indonesia. Kelompok yang lama dan tidak diikutkan lagi dalam kepengurusan baru PSSI dalam hal ini ISL tetap saja membuat liga sendiri. Andai saja pihak ISL tidak berniat menggulirkan liga karena sudah tidak lagi digunakan oleh pengurus PSSI yang baru, dan andai saja pengurus PSSI yang baru bisa menghargai dan menghormati pengurus lama tentu tidak akan terjdadi dua liga dalam satu negera seperti yang terlihat sekarang ini.

Realita yang terjadi saat ini adalah seperti ada kekuatan besar yang saling tarik menarik dan saling menonjolkan untuk menunjukkan siapa penguasa sepakbola tanah air Indonesia sebenarnya. Sedikitpun tidak ada sikap sportifitas yang ditunjukkan oleh para pengurus PSSI baik yang lama maupun yang baru seperti yang ditunjukkan dalam sebuah laga pertandingan sepak bola. Seharusnya para pengurus PSSI tersebut bisa mencontoh para pemain sepak bola ketika berlaga dilapangan hijau, jiwa sportivitas, fairplay, yang menang menghormati yang kalah dengan saling berjabat tangan diakhir pertandingan. 

Virus Politik

Virus politisasi mulai menyebar ditubuh PSSI tatkala ketika para politisi-politisi mulai masuk kedalam tubuh PSSI itu sendiri, secara hitungan politis sepak bola adalah olahraga yang digemari oleh banyak orang, secara hitungan politik ini adalah kesempatan untuk bisa mengambil simpatik massa yang bisa diarahkan lewat sepak bola, dengan kata lain seorang tokoh politik bisa menjadi sangat terkenal ketika bisa membawa sepak bola Indonesia menjadi yang lebih baik sekaligus ini juga bisa diarahkan kedalam pemilu sebagai lahan suara bagi para politisi.

Disisi lain sepakbola juga adalah olahraga yang membutuhkan biaya yang cukup besar apalagi setelah klub dilarang untuk menggunakan dana APBD untuk membiayai klub dalam menjalani roda kompetisi yang cukup panjang dan melelahkan, oleh karenanya sepakbola juga butuh figur-figur yang memang kuat secara finansial dan mempunyai visi manajeman bisnis yang handal untuk bisa menjalankan roda kompetisi liga dan lain sebagainya. Bayangkan saja hingga saat ini klub-klub yang akan berlaga baik di ISL maupun IPL masih banyak yang belum memiliki sponsor untuk mengarungi liga musim depan, sedangkan klub-klub yang telah memiliki sponsor resmi rata-rata adalah klub yang didalamnya terdapat figur pemimpin daerah seperti Gubernur atau Walikota sebagai sosok yang bisa mendatangkan sponsor ke klub tersebut.

Apapun ceritanya memang sistem yang harus membuat sepak bola Indonesia berhubungan dengan pejabat politik. Sayangnya para politisi yang memang berkecimpung disepak bola Indonesia kurang memiliki jiwa sportifitas dan farplay yang baik yang kemudian memanfaatkan situasi untuk kepentingan politiknya. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan sepak bola luar negeri terutama di Eropa, di Eropa sepak bola sudah menjadi lahan industri yang memang sangat menjanjikan dan menguntungkan bagi pemilik saham di klub tersebut. Sebagai contoh misalnya, Bakri group telah bisa memiliki sebuah klub juara liga Australia dengan membeli sebahagian besar sahamnya, pertanyaannya, bisakah klub-klub di Indonesia bisa seperti itu?

Prestasi Timnas

Prestasi timnas yang hingga kini belum memberikan yang terbaik, bahkan di SeaGames ke 26 Jakarta Palembang lalu timnas finish dengan medali perak atau sebagai juara II setelah difinal kalah dari Timnas Malaysia lewat adu pinalti. Memang kita tetap memberikan apresiasi terhadap perjuangan para punggawa timnas U 23 karena sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik buat sepak bola Indonesia, namun seharusnya kegagalan timnas U 23 Sea Games dalam meraih mendali emas menjadi petunjuk dan pelajaran buat tokoh-tokoh sepak bola dinegeri ini. Bukan justru malah membuat carut marut persepakbolaan di Indonesia. 

Kita tentunya berharap agar para tokoh sepak bola na-sional baik yang kuat secara materi maupun non materi bisa duduk bersama untuk sama-sama mengkelola sepak bola nasional agar lebih baik lagi. Andaikan saja kedua kelompok elemen baik itu IPL maupun ISL bisa bersatu untuk kemudian merumuskan sebuah sistem kompetisi yang lebih baik dan berkualitas, tentu ini akan membawa dampak baik bagi perkembangan sepak bola tanah air baik itu timnas maupun klub. Karena dengan terjadinya perpecahan kompetisi saat ini tentu akan berdampak terhadap menurunnya kualitas para pemain, carut marut sepakbola tanah air ini membuat konsentrasi baik pemain maupun pengurus menjadi menurun karena bingung dengan keadaan sistem sepakbola kita, lantas kapan sepakbola Indonesia bisa menjadi lebih profesional.

Bagi para pengurus maupun tokoh bola yang memang memiliki peran penting dalam sepak bola Indonesia dan masih memiliki kepentingan politik yang juga sebagai tokoh politik kiranya dapat memahami hal ini. Untuk itu sekiranya para tokoh tersebut dapat membuang jauh-jauh segala ego dan kepentingan politik maupun kelompoknya, dan lebih fokus untuk memikirkan kepentingan sepak bola nasional. Karena juga sebenarnya Indonesia memiliki talenta-talenta muda yang berbakat dalam mengolah sikulit bundar, tentunya sangat disayangkan kalau talenta-talenta ini tidak dibina dengan baik. Jangan sampai dengan carut marut kompetisi liga yang terjadi saat ini ter-us berlanjut, sehingga menguras waktu dan pikiran para pengurus PSSI dan pada akhirnya menterlantarkan pembinaan usia muda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar