Kamis, 27 Oktober 2011

ISL Atau LPI?

Babak baru kini dihadapi oleh organisasi yang saat ini dipimpin oleh Djohar Arifin Husen, dimana potensi akan bergulirnya dua kompetisi di Indonesia ini kembali menjadi wacana hangat di dunia persepakbolaan kita.
Sejumlah klub-klub di Indonesia saat ini berseberangan terkait penyelenggaraan kompetisi sepak bola tertinggi, Indonesia
Super Liga (ISL) atau Liga Premier Indonesia (LPI). Di satu kubu mengatsanamakan kelompok 14, terdiri dari 14 klub menolak digulirkannya kompetisi dengan jumlah peserta sebanyak 24 klub dan tetap menolak jika kompetisi yang digelar dikelolah oleh PT Liga Prima Indonesia. Mereka menilai jika yang layak menggelar kompetisi adalah PT Liga Indonesia.

Di sisi lain juga terdapat kelompok 10, yang mendukung kompetisi dihelat oleh PT Liga Prima Indonesia, yang berjumlah 24 kontestan.
Skandal dua kompetisi itu seolah terulang kembali, begitu juga saat musim kompetisi tahun lalu. Ketika itu ada dua kompetisi selevel di negeri ini yakni LPI dan ISL.

Bagaimana-pun sejumlah klub akan merasakan situasi yang tidak enak lagi, pasalnya seluruh klub harus mengambil sikap dan memilih konmpetisi antara di bawah naungan PT Liga Prima atau PT Liga Indonesia.
Tentunya hal itu juga akan dirasakan oleh tim kebanggaan masyarakat Sulsel, PSM Makassar saat mengarungi dunia persepakbolaan. Mau tak mau tim yang disebut-sebut sebagai penggagas reformasi sepak bola era Nurdin Halid itu harus memilih kompetisi mana yang akan menjadi pilihan.

Manajer Komercial dan Kommunication PSM Makassar, Ano Suparno lebih dulu menjelaskan jika PSM Makassar adalah tim yang memperkenalkan reformasi sepak bola, dengan meninggalkan cara-cara lama dan melakukan perubahan sepak bola yang profesional.

Ketika ditanyai terkait kompetisi mana yang akan menjadi pilihan PSM di pentas sepak bola tertinggi di tanah air ini, Ano mengungkapkan jika PSM akan ikut kompetisi yang berada di bawah naungan lembaga sepak bola tertinggi di Indonesia yakni PSSI.
“PSM akan ikut di kompetisi resmi PSSI, dan untuk penyelenggara komptisi, PSM mengikuti kompetisi yang digulirkan oleh PT Liga Prima Indonesia karena ISL sudah tidak lagi diakui oleh PSSI,” ungkap Ano, kepada Upeks Rabu (26/10) kemarin.

Sementara itu, sesuai yang dilansir oleh Goal.com, jika pelatih asing yang saat ini mengarsiteki tim Persib Bandung, Drago Mamic juga angkat bicara terkait potensi bergulirnya kembali dua kompetisi di Indonesia.
Menurutnya jika suatu saat timnya bersama tim-tim lainnya tentu harus mengambil sikap dan memilih bermain di bawah PT Liga Prima atau PT Liga Indonesia.

Menyikapi dua kompetisi tersebut pelatih Maung Bandung tersebut serontak mengeluarkan opininya sendiri jika pilihan IPL atau ISL adalah pilihan yang keliru.
Dalam situasi seperti ini, seharusnya pihak-pihak yang berwenang menjajaki opsi membagi kompetisi menjadi dua wilayah dengan pembagian grup berdasar pada segi geografis.”


Satu grup dihuni 12 tim hingga total jumlah peserta tetap 24. Setelah berkompetisi penuh di setiap wilayah, juara grup langsung bertemu untuk menentukan yang terbaik.
“Tujuh tim teratas dari setiap wilayah otomatis terseleksi untuk mengikuti kompetisi tahun berikutnya dengan format satu wilayah, sementara sisanya berjuang untuk menghindari degradasi,” kata Mamic sebagai pendapat pribadinya sendiri.

Berlarut-larut-nya sistem kompetisi yang terjadi saat ini tentunya bakal menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para petinggi-
petinggi organisasi olahraga sepak bola yang ada di Senayan untuk menyatukan visi yang sama, baik dikelompok 14 menginginkan kompetisi di gulirkan oleh PT Liga Indonesia, maupun kelompok 10 yang masih melekat dengan PT Liga Prima Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar