Jumat, 28 Oktober 2011

Kisah Para Pemain Asing yang Kini Resmi Menjadi WNI

Menyusul Christian Gonzales dan Irfan Bachdim, Indonesia menambah lagi lima pemain asing yang jadi WNI. Selain alasan ingin memperkuat timnas sepakbola Indonesia, ada banyak alasan pribadi yang membuat mereka membuang kewarganegaraan lama dan berpindah menjadi warga negara Indonesia. Berikut kisah mereka.

EAR phone merah muda di telinga dan rambut diukir seperti penyanyi rap, membuat Greg Nwokolo terlihat funky. Pemain yang gemar bercanda itu memang punya keahlian bermain bola yang ciamik.

"Halo friend apa kabar? Oke-oke saja kan?" kata Greg saat ditemui INDOPOS (JPNN Group) beberapa waktu lalu di Dufan, Ancol. Greg selalu bergaya seperti rapper. Jalannya saja unik, seperti rapper. Usil dan selalu mengganggu rekan-rekannya.

Saat di Persija, jangankan Ismed Sofyan, Bambang Pamungkas saja yang notabene disegani karena senioritasnya di Persija Jakarta juga menjadi salah satu pemain yang sering dijahili Greg. Ya, setelah Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim, Indonesia menambah lima pemain asing anyar yang menjadi WNI.

Senin (10/10) lalu, mereka resmi menjadi WNI. Mereka adalah Greg Nwokolo (asal Nigeria), Victor Chukwuekezie Igbonefo (Nigeria), Stefano Jantje Lilipaly (Belanda), Jhonny Rudolf van Beukering (Belanda), dan Tonnie Harry Cusell (Belanda).

Mereka disumpah dan dilantik sebagai WNI di Kanwil Hukum dan HAM DKI Jakarta. Pengambilan sumpah dan pelantikan kelima WNI baru itu dilakukan setelah mereka menerima Keppres No. 3/PWI/2011 tentang Pengabulan Permohonan Pemberian Kewarganegaraan.

Di dalam petikan surat keputusan itu terdapat satu nama lain yang juga dikabulkan menjadi WNI, yaitu Serginho van Dijk. Namun, Van Dijk tidak hadir. Rangkaian upacara, antara lain, diisi dengan menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya‚" pembacaan SK Presiden, pengambilan sumpah pemain, penandatanganan berita acara pengambilan sumpah, serta sambutan pejabat Kementerian Hukum dan HAM Kanwil DKI Jakarta.

"Pertimbangan utamanya (menjadi WNI) adalah saya ingin membela Timnas Indonesia. Itu tentu impian setiap pemain bola di Indonesia," jelas Greg kepada INDOPOS. Greg memang pemain sepakbola sudah sangat lama membela Indonesia. Karier perdanannya adalah membela Tim Persijatim Jakarta Timur sejak umurnya baru berpijak 18 tahun.

Seusai upacara, Nwokolo dan empat pemain naturalisasi itu menyatakan bahagia dan senang menjadi WNI. Nwokolo menambahkan, dirinya akan memberikan upaya terbaik untuk Indonesia dan ikut berupaya memajukan sepak bola Indonesia. "Kalaupun tidak bisa main di tim nasional, saya akan main di klub, tidak hanya di (klub) Indonesia, tetapi juga di (klub) internasional sebagai orang Indonesia," kata Nwokolo, yang tujuh tahun terakhir ini tinggal di Indonesia.

"Jadi kalau ditanya soal nyaman di negara mana, tentu saya pasti nyaman di Indonesia," kata pemain yang sering menggunakan nomor punggung 10 itu. Setelah di Persijatim, Greg hengkang ke Persis Solo. Nama Greg mencuat kembali setelah dia diboyong Danurwindo tiga musim lalu dan membela panji-panji tim ibukota Persija Jakarta.

Greg mengaku kenyamanannya di Indonesia didapat dari lingkungan. Menurutnya, masyarakat dan tabiat manusia di Indonesia sangat ramah dan umumnya mudah diajak bergaul. "Mereka supel dan ramah. Itu membuat saya senang," ujar pemain yang sering beroperasi dalam pertandingan di sayap kiri maupun penyerang lubang itu.

Selain itu, Greg juga punya alasan lain. Saat ini, sandaran hatinya adalah wanita. Cinta yang bergelora di dada pemain Pelita Jaya itu adalah wanita Indonesia. "Saya tidak punya pacar, tapi wanita Indonesia lah yang membuat saya juga butuh negara ini," ujarnya sambil tertawa.

Memang, perilaku Greg dalam kesehariaanya sudah mengimplementasikan sebagai orang Indonesia pada umumnya. Dari makanan, bahasa Indonesia yang sudah sangat fasih, serta pergaulan. Bahkan kebiasaan pemain asing yang selalu ingin tinggal di apartemen sudah ditinggalkan Greg. Sekarang dia lebih memilih membeli rumah di perumahan daripada apartemen.

Perjalanan karir Greg di Indonesia sempat mengalami pasang surut. Putra kelima pasangan Gregory Nwokolo dan Josephine Nwokolo itu mengawali karirnya di kompetisi nasional bersama Persijatim Solo FC pada 2004.

Setelah kompetisi selesai, Greg sempat hengkang dari Indonesia. Kecewa dengan kondisi kompetisi Indonesia yang buruk, dia memilih bermain di Liga Singapura musim 2004-2006. Di sana dia bergabung bersama Young Lions FC dan Singapore Armed Force.

Setelah iklim Liga Indonesia membaik Greg memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia. PSIS Semarang menjadi pelabuhan pertamanya setelah kembali dari Singapura.

Bersama Mahesa Jenar, Greg tampil luar biasa. Sayangnya, dia tak lama berkostum PSIS. Setelah sempat terlibat keributan dengan rekan setimnya, Greg akhirnya pindah ke PSMS Medan, pada putaran kedua. Di PSMS, Greg tak lagi bersinar.

Musim selanjutnya, Greg pindah ke Persis Solo. Sempat memegang ban kapten, namun di Persis, Greg lagi-lagi tak terkendali. Dia berubah menjadi pemain temperamental di lapangan.Bahkan, dia sempat memukul hakim garis Sunaryanto saat Persis bertanding lawan Persipura Jayapura. Saat itu Persis tumbang 0-1.

Akibat ulahnya ini, Greg harus menerima cap negatif dari Badan Liga Indonesia (BLI). Di awal musim ini, BLI menggolongkan Greg ke dalam pemain yang tidak direkomendasikan untuk direkrut klub.

Greg memutuskan pindah ke Persija pada musim 2008. Bersama Macan Kemayoran, Greg tampil gemilang dan mencetak 16 gol dari 20 laga. Greg sempat bermain di klub Portugal SC Olhanense sebelum kembali ke Persija pada 2010. Bersama Persija, Greg menjadi selalu mendapat tempat di tim inti. Bahkan kini Greg menjelma menjadi motor serangan Macan Kemayoran. Kini Greg berkostum Pelita Jaya dan sedang melakukan pertandingan turnamen di Solo.
   
Lantas apa alasan pemain asing lainnya, Stefano Lilipaly, menanggalkan paspor Belandanya dan memilih menjadi WNI? Kepada wartawan beberapa waktu lalu, Lilipaly mengaku tingkah lucu dan bersahabat para pemain Tim Nasional Indonesia menjadi motivasi tersendiri baginya.

Gelandang FC Utrecht kelahiran Arnhem, Belanda, 10 Januari 1990 itu mengaku, meski suhu panas di Jakarta membuatnya terganggu, tetapi itu tidak mengurangi antusiasnya menjadi WNI. Apalagi, suasana bersahabat dan tingkah jenaka para pemain timnas Indonesia sangat membantunya beradaptasi.

"Suhu di sini sangat panas. Di Belanda saat ini 5 derajat Celcius, jadi sedikit menyulitkan bagi saya. Tapi, para pemain Indonesia membuat saya terus tertawa. Mereka membuat lelucon sepanjang latihan," kata Stefano.

Soal alasannya menjadi WNI, Stefano bahwa jauh di lubuk hatinya, dia merasa sebagai warga dan penduduk Indonesia. "Saya ingin bermain untuk negara saya Indonesia. Saya memang lahir di Belanda, tapi Indonesia juga akar dalam kehidupan saya. Itu motivasi saya," katanya

Stefano menjelaskan darah Indonesia yang mengalir di tubuhnya berasal dari sang ayah, Rony Lilipaly, yang dikatakan berasal dari Papua. "Ibu saya dari Belanda, namanya Adriana," kata Stefano.

Lain alasan Viktor Chukwuekezie Igbonefo, bek tangguh Persipura Jayapura, yang memutuskan menjadi WNI. Dia mengaku bangga menjadi warga Indonesia hasil naturalisasi. Menurutnya, menjadi WNI sudah menjadi takdir yang harus dia jalani dengan sesungguh hati. "Kalau dipercaya, saya sangat ingin membela nama Indonesia di ajang internasional," harapnya.

Pria kelahiran 10 Oktober 1985 itu mengaku menjadi WNI adalah angan-angannya sejak dulu. "Saya sudah sangat lama di Persipura. Saya tahu persis bagaimana kondisi timnas sejak beberapa tahun lalu," katanya.

Hal lain yang membuatnya senang adalah keputusan WNI juga didukung oleh ayahnya, Basil Igbonefo, dan ibunya, Roseline Igbonefo. "Orang tua memberi isin dan mendukung," katanya.

Viktor adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Saudara tertuanya, Jane, kemudian Evelyn, Patrick, dan Beniglus Igbonefo. Viktor sendiri tiba di Jayapura sejak 8 Juli 2004.

Igbonefo saat ini dinilai sebagai salah satu bek terbaik Liga Super Indonesia karena memiliki tingkat disiplin tinggi. Pria bertubuh tinggi itu nyaris selalu bermain 90 menit untuk Persipura. "Saya yakin Indonesia punya kesempatan untuk lolos (Pra-Piala Dunia 2014), semua bisa terjadi walaupun pernah kalah sebelumnya," ucapnya.

Meski secara ekonomi sudah mapan dan juga sudah memiliki pacar, dia masih belum memikirkan kapan akan menikah. "Pacar saya orang Indonesia, tapi saya belum siap menikah," ucapnya.

Pemain asal Belanda berdarah Indonesia lainnya yang menjadi WNI, Jhonny Rudolf van Beukering dan Tobias Jesajas Waisapy, juga merasa nyaman menjadi WNI. "Kalau tidak serius (menjadi WNI) saya tidak akan ada di sini. Membela timnas Indonesia adalah impian saya. Saya akan senang dan bangga bisa memperkuat timnas Indonesia karena saya punya darah Indonesia," tegas Rudolf.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar