Kamis, 14 Juni 2012

Mou : Sepakbola Indonesia Maju 6 Tahun Lagi

Pelatih paling dibicarakan di jagat sepakbola saat ini, Jose Mourinho mengunjungi Jakarta sejak Rabu sore, 13 Juni 2012. Dalam kunjungan singkatnya ini, Mourinho mengungkapkan beberapa target, rahasia kesuksesan dan pandangannya tentang sepakbola dunia.

The Special One dari Portugal itu termasuk figur prominen di Indonesia. Tak aneh jika banyak yang menantikan pelatih Real Madrid ini ketika hadir di Jakarta. Berpuluh-puluh fans menunggunya di lobi Hotel Borobudur. Demikian pula para wartawan.

Mourinho sempat menggelar acara Meet and Greet bersama media. Dalam acara kurang dari 30 menit itu, Mou yang dikenal garang justru ramah dan sesekali bercanda dengan wartawan. Berbaju lengan panjang warna abu-abu tak dikancingkan di bagian atasnya serta lengan dilipat dan bercelana jins biru serta bersepatu kets hitam, Mourinho terlihat santai. Yang jelas pesona The Special One tak bisa dihilangkan.
"Sepertinya bukan saya berada di tempat dan waktu yang tepat. Tapi, klub-klub lah yang dengan tepat memilih saya menjadi pelatihnya," ujar
Mourinho tentang kesuksesannya menaklukkan tiga liga besar Eropa bersama Chelsea (Inggris), Internazionale Milan (Italia) dan Real Madrid
(Spanyol). Sontak, ucapan Mourinho ini disambut tawa gemuruh wartawan di ruangan.

Pria 49 tahun asal Portugal ini datang ke Indonesia atas undangan Peter Lim. Miliuner asal Singapura ini mengelola Singapore Olympic Foundation yakni Peter Lim Sports Scholarship yang bertujuan mengembangkan dan memajukan olahraga di kalangan generasi muda.

Berikut petikan wawancara dengan Mourinho yang juga telah dua kali menjadi juara Liga Champions bersama FC Porto (2004) dan Inter Milan (2010) ini:

Bagaimanakah menurut Anda tentang yayasan yang mengundang Anda berpartisipasi di dalamnya yakni yang bergerak di bidang amal dan kemanusiaan?
Yayasan seperti ini sangat luar biasa. Apalagi, yayasan ini memberikan beasiswa pendidikan dan olahraga kepada kaum muda. Saya juga suka anak-anak dan orangtua. Anak-anak harus kita sayangi dan kasihi. Sedangkan orangtua merupakan figur yang harus kita beri respek.

Menurut Anda bagaimana kualitas para pemain Asia saat ini di pentas sepakbola dunia?
Beberapa pemain dari Jepang misalnya, punya potensi bagus karena mereka suka bekerja keras. Sepakbola Eropa akan memberikan tempat bagi bakat-bakat Asia. Apalagi, sepakbola Asia terus berkembang dalam 10-15 tahun terakhir.

Bagaimanakah cara membangun sepakbola Indonesia yang sedang dalam kondisi tak menentu seperti ini?
Saya telah bicara dengan FIFA, juga UEFA lewat presidennya Michel Platini. Kompetisi terbesar memang berada di Eropa yakni Liga Spanyol, Inggris, Italia dan juga Liga Champions. Tapi, sepakbola bukan milik golongan tertentu saja. Saya siap berbagi pengalaman dengan siapa saja.
Saya berharap suatu saat nanti bisa membawa tim saya Real Madrid ke sini. Dengan organisasi sepakbola dan hasrat kuat, saya harap sepakbola Indonesia akan semakin maju dan bersaing dalam 6 atau 10 tahun ke depan.

Anda sangat sukses dan sepertinya selalu berada di saat dan waktu yang tepat. Bagaimana komentar Anda?
Sepertinya bukan saya berada di tempat dan waktu yang tepat. Tapi, klub-klub lah yang dengan tepat memilih saya menjadi pelatihnya. Keputusan saya untuk memilih total berkarir di sepakbola terbukti tepat.
Saya punya anak berusia 15 dan 12 tahun, dan saya meminta mereka untuk menikmati saat-saat dimana saya harus membawa mereka berpindah-pindah negara. Istri saya menjadi salah satu pendukung kesuksesan selama ini. Karena ia bukan hanya berfungsi sebagai ibu bagi anak-anak saya, tapi juga sebagai ayah.
Maklum, saya harus berpindah-pindah negara. Dari Portugal saya pergi ke Inggris melatih Chelsea. Di Italia menangani Inter Milan dan sekarang di Spanyol.
Saya harus melakukan itu karena sebagai profesional, saya ingin membuktikan konsep sepakbola yang saya miliki bisa beradaptasi dengan budaya sepakbola seperti di Inggris, Italia dan Spanyol.
Saya berpikir akan bisa melakukannya dalam 10-15 tahun lagi. Meski agen saya bilang saya mampu melakukannya dalam 20-15 tahun lagi. Hal terpenting adalah saya harus bisa menikmati hidup, karena saya sangat menikmati karir saya.

Bagaimanakah cara Anda mengatasi sikap para pemain yang egois?
Maksud Anda, bagaimana pemain beradaptasi dengan saya sebagai pelatih yang egois? (Pertanyaan balik Mourinho ini disambut tawa wartawan).
Saat melatih sebuah klub, Anda akan seperti hidup dalam sebuah keluarga. Pasti akan ada masalah di dalamnya.
Seperti Anda, pasti pernah memiliki masalah dengan teman, saudara laki-laki maupun perempuan, juga istri Anda. Tapi, jika semuanya saling
mencintai, semua masalah bisa diselesaikan.
Pemain juga manusia yang tidak sempurna, saya juga tidak sempurna. Mereka tahu kualitas saya, dan saya juga tahu kualitas para pemain.
Dengan selalu tersenyum dan membuat mereka bahagia, Anda akan menjaga hubungan baik itu.
Saya juga selalu menanamkan kepada para pemain. Pemain bukan hanya sebuah profesi, lebih dari sekedar profesi. Jadi, pemain harus punya
passion. Karena banyak orang di dunia ini bekerja tanpa passion. Kami selalu berteman, bahkan kami kadang terlihat seperti kakak adik.
Saya bisa bilang, bukan hanya 90 persen, tapi 99 persen saya masih punya hubungan baik dengan mantan pemain asuhan saya.

Sebenarnya, apakah target utama dalam karir Anda?
Setidaknya ada tiga target besar yang ingin saya raih dalam karir saya. Yang pertama, saya ingin menjadi juara di tiga liga besar Eropa. Dan itu sudah saya lakukan bersama Chelsea di Inggris, Inter Milan di Italia dan kini di Spanyol bersama Real Madrid. Menjadi juara Liga Portugal bersama FC Porto menjadi tambahan catatan karir saya.
Saya juga ingin menjadi juara Liga Champions bersama tiga klub berbeda. Kini, saya telah mengembalikan Real Madrid menjadi juara Liga Spanyol. Jadi, mungkin target saya musim depan adalah menjadi juara Liga Champions bersama Madrid.
Target terakhir saya yakni ingin meraih gelar bersama tim nasional Portugal. Meski saya sebenarnya punya masalah jika melatih tim nasional. Melatih timnas takkan punya banyak waktu mempersiapkan tim. Karena pemain praktis hanya berkumpul selama 2 bulan saat menghadapi turnamen 2 tahun sekali.
Tapi, saya sangat suka jika harus melatih tim nasional. Meski saya sebenarnya suka mempersiapkan pemain setiap pekan dan menjalani pertandingan dari pekan ke pekan.

Anda suka berpindah-pindah melatih klub. Apakah ada keinginan untuk menetap di satu klub suatu saat nanti seperti Sir Alex Ferguson di Manchester United?
Mungkin suatu saat nanti saya ingin kembali ke Inggris. Alasan utamanya hanya soal budaya. Saya telah bekerja di Inggris, Italia dan Spanyol. Dan Inggris membuat saya bisa bekerja lebih tenang, beda dengan Italia dan Spanyol. Perbedaan mentalitas orang-orang dan media membuat saya agak kesulitan di Italia, dan juga Spanyol.
Ferguson seperti sudah memiliki MU. Sebaliknya, MU dan fansnya juga memiliki Ferguson, mereka saling memiliki. Tak ada yang bisa melihat MU tanpa Ferguson.
Sejak 2 tahun lalu saya bekerja di Real Madrid. Saya telah memperpanjang kontrak dengan Madrid sampai 2016. Real adalah klub terbesar di dunia. Musim ini, saya mampu mempersembahkan gelar juara Liga (Spanyol). Setelah ini, target saya harus mengembalikan Madrid sebagai klub terbaik dan terbesar di dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar